Perbedaan Autisme dan Sindrom Rett – Autisme dan sindrom Rett adalah kondisi yang mempengaruhi anak-anak dan mempengaruhi perkembangan otak pasien. Meski terlihat mirip, autisme dan sindrom Rett berbeda. Jadi, apa yang membedakan keduanya? Berikut ulasan lengkapnya!
Perbedaan Autisme dan Sindrom Rett
Autisme adalah gangguan perkembangan otak yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan sindrom Rett merupakan kelainan genetik yang mempengaruhi perkembangan otak seseorang. Orang dengan sindrom Rett awalnya memiliki perkembangan normal, yang lambat laun tertunda, mulai dari keterlambatan bicara hingga gangguan gerakan.
Perbedaan Antara Autisme dan Sindrom Rett
Gejala dan tingkat keparahan penderita autisme akan bervariasi. Dalam kasus normal, pekerjaan sehari-hari masih bisa dilakukan. Namun, jika kasusnya sudah mencapai stadium yang serius, pasien akan membutuhkan bantuan dalam kehidupan sehari-hari. Gejala-gejala penyandang autisme berikut ini berkaitan dengan komunikasi dan interaksi sosial, serta pola perilaku:
- Tidak merespon ketika namanya dipanggil, meskipun pendengarannya normal.
- Jangan pernah mengungkapkan emosi dan tidak peka terhadap perasaan orang lain.
- Tidak dapat memulai atau melanjutkan panggilan.
- Sering mengulang kata dan tidak memahami penggunaan kata dengan baik.
- Sering menghindari kontak mata dengan orang lain.
- Kurangi ekspresi.
- Nadanya datar seperti robot.
- Sebaiknya sendirian.
- Tidak mengerti pertanyaan atau instruksi sederhana.
- Hindari kontak fisik dengan orang lain.
- Peka terhadap cahaya, sentuhan atau suara.
- Tidak merespon rasa sakit.
- Rutin melakukan aktivitas tertentu dan tidak menerima perubahan.
- Selalu berjalan berjinjit.
- Pilih hanya makanan tertentu.
Semakin cepat diobati, semakin efektif pengobatannya. Sangat penting untuk mewaspadai gejala-gejala yang muncul dan segera berkonsultasi dengan anak di rumah sakit terdekat jika gejala-gejala seperti:
- Kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi.
- Tidak merespon dengan senyuman pada usia 6 bulan.
- Tidak dapat meniru suara atau ekspresi wajah pada usia 9 bulan.
- Tidak bisa mengoceh pada usia 12 bulan.
- Tidak ada kata yang terucap di usia 16 bulan.
Sedangkan penderita sindrom Rett tumbuh normal sampai usia 6 bulan. Setelah itu, serangkaian gejala perlahan akan muncul. Berikut tahapan perkembangan gejala sindrom Rett:
Fase 1 (stagnasi)
Tahap pertama ditandai dengan gejala kesulitan makan, gerakan kaki yang tidak normal dan berulang, keterlambatan bicara, kesulitan bergerak, dan kurangnya minat pada permainan. Kondisi ini terjadi saat anak berusia 6-18 bulan.
Fase 2 (regresi)
Pada tahap selanjutnya, kemampuan anak menurun secara perlahan atau drastis. Gejalanya meliputi gerakan tangan yang berulang dan tidak terkontrol, berteriak tanpa alasan yang jelas, menghindari kontak dengan orang lain, ketidakseimbangan tubuh, dan kesulitan mengunyah dan menelan. Kondisi ini terjadi saat anak berusia 1-4 tahun.
Fase 3 (dataran tinggi)
Sementara gejala tahap sebelumnya membaik, pada tahap ini beberapa gejala baru muncul, seperti kejang, sesak napas, dan kebiasaan menggertakkan gigi. Kondisi ini terjadi saat anak berusia 2-10 tahun.
Fase 4 (penurunan gerak)
Tahap akhir ditandai dengan kelainan bentuk tulang belakang atau skoliosis, kelemahan atau kekakuan otot, dan ketidakmampuan untuk berjalan. Namun, kemampuan anak berkomunikasi semakin baik, bahkan gerakan tubuh berulang dan kejang mulai menurun. Kondisi ini terjadi sampai anak tumbuh dewasa.




