Memahami Pengertian Terapi Sensori Integrasi – Salah satu terapi yang saat ini banyak diminati dan terbukti sangat membantu tumbuh kembang anak adalah terapi sensori integrasi. Pada dasarnya, terapi integrasi sensorik adalah bentuk terapi okupasi. Biasanya ini hanya dilakukan oleh terapis okupasi yang terlatih khusus. Tujuan dari terapi ini adalah untuk membantu anak-anak merespon dengan tepat terhadap cahaya, suara, sentuhan, bau, dan rangsangan lainnya.
Yuk simak ulasan lengkapnya untuk mengetahui lebih lanjut tentang terapi sensorik!
Memahami Pengertian Terapi Sensori Integrasi yang Harus Diketahui
Sensory Integration Therapy atau sering disingkat SI adalah suatu bentuk terapi dan pengobatan okupasi untuk anak berkebutuhan khusus. Selain itu, terapi sensori integrasi juga sering digunakan sebagai sarana upaya perbaikan.
Seperti pulih dari gangguan perkembangan atau pertumbuhan atau bahkan ketidakmampuan belajar. Selain itu, terapi sensori integrasi juga berguna untuk mengatasi gangguan interaksi sosial anak, serta berbagai masalah pada anak yang berkaitan dengan gangguan tingkah laku.
Integrasi sensorik adalah proses yang dilakukan untuk mengenali, mengubah, dan membedakan sensasi dari sistem sensorik tubuh. Sehingga anak dapat melakukan tindakan atau reaksi yang benar di kemudian hari.
3 indera utama dalam integrasi sensorik
Maka dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa integrasi sensorik sangat diperlukan. Terutama untuk merangsang tumbuh kembang anak agar lebih optimal.
Ada 3 indera utama dalam integrasi sensorik antara lain:
- Taktil
Indra taktil memiliki tugas penting, yaitu mampu memberikan informasi kepada seseorang melalui apa yang disentuhnya. Dengan apa yang disentuh, informasi tentang rasa sakit, tekanan dan suhu dapat dijawab oleh anak-anak.
Indera terbesar yang dimiliki manusia bersifat kasat mata, hal ini terjadi karena adanya reseptor dari ujung rambut hingga ujung kaki manusia. Sehingga jika terjadi gangguan taktil menyebabkan salah persepsi terhadap informasi yang diberikan melalui sentuhan.
Ada 3 jenis gangguan sensorik yaitu hipersensitivitas, hiposensitivitas, dan pencarian sensasi. Jika ada anak yang hipersensitif terhadap indera peraba, mereka lebih cenderung menghindari sentuhan, benci untuk disentuh, menolak makan makanan dengan tekstur tertentu, atau menolak memakai pakaian dari bahan tertentu. dibuat. Tentunya ketiga hal tersebut dapat mengganggu proses tumbuh kembang anak.
- Vestibular
Indera kedua adalah vestibular. Terletak di telinga bagian dalam, indera vestibular ini memiliki dampak besar pada keseimbangan, gerakan, dan gravitasi tubuh manusia. Vestibular memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan seseorang selama gerakan.
Jika seorang anak memiliki gangguan dalam arti vestibular, ia hipersensitif dan takut pada gerakan sederhana. Seperti menolak digendong, takut naik ayunan anak, takut naik lift dan eskalator, dan lebih sering cemas.
Selain itu, bagi seseorang yang kurang peka, sebagian besar akan merasa kurang sensasi saat jatuh. Jadi jangan mengambil tindakan protektif atau protektif, seperti menahan diri dengan tangan agar tidak menyentuh tubuh.
- Proprioseptif
Dan yang terakhir adalah proprioseptif. Proprioception adalah indera yang bertanggung jawab atas kesadaran tubuh, yang memberikan informasi tentang posisi anggota badan, posisi seseorang di lingkungan, dan juga jumlah kekuatan yang harus diterapkan untuk melakukan suatu gerakan. Misalnya keterampilan motorik halus seperti minum, menulis, makan, mengancingkan baju dan juga mengandalkan sistem proprioseptif yang efisien.
Jika seseorang memiliki gangguan sensorik, orang tersebut akan kesulitan untuk mengetahui seberapa besar kekuatan otot jari yang diperlukan untuk memegang pensil. Apakah sangat lemah atau sangat kuat, orang tersebut tidak dapat membedakannya.
Mengapa terapi integrasi sensorik diperlukan?
Pada anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD), gangguan pada pemrosesan impuls sensorik juga dapat menyebabkan masalah yang dapat mempengaruhi perilaku dan keterampilan anak. Jika ini terjadi, anak bisa menjadi kurang atau bahkan terlalu sensitif terhadap rangsangan sensorik di sekitarnya.




